Sabtu, 14 Maret 2009
Selasa, 09 September 2008
Saat Diri Harus Beranjak Pergi
Saat Diri Harus Beranjak Pergi
Jiwa meregang...
Tubuh pun bergetar hebat, berbaur jeritan ketakutan atau linangan air mata bahagia karena ingin bertemu Rabb-nya. Ditarik, dan dicerabut dari setiap urat nadi, syaraf, dan akar rambut. Ini sebuah titah, ia harus kembali kepada pemilik-Nya.
Allahu Akbar, janji-Mu telah tiba. Yaa Robbi..., alangkah sakit dan pedih. Perih laksana tiga ratus tusukan pedang, atau ringan bagaikan sebuah pengait saat dimasukkan dan ditarik dari gumpalan bulu yang basah. Duhai jiwa, seandainya engkau tahu bahwa sakaratul maut itu lebih ngeri dan dahsyat dari semua sketsa yang ada.
Sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur'an, dan sesegukan air mata yang tumpah. Lalu, hening berbalut sepi. Semakin hening, bening..., menggantikan hingar bingar dunia di kala pagi yang penat dan siang yang meranggas. Diam pun menyisakan kepiluan, kesedihan atau berjuta kenangan. Dia telah pergi, dan tak akan pernah kembali.
Yaa Allah..., inikah kepastian yang telah Engkau tetapkan?
Dimanakah kini sahabat-sahabat setia yang katanya kan bersama selamanya? Dimanakah kini kekasih hati yang kan menemani sampai mati? Dimanakah kini pakaian indah yang selalu menghiasi tubuh ini? Dimana harta benda yang telah terkumpul, dimanakah kini kalian semua berada? Semua telah direnggut kematian, dicampakkan, dan dihempaskannya kenikmatan dunia yang dahulu terlalu dielu-elukan. Adakah segala amanah dapat menuai pahala, duhai Allah.
Kegelapan pun menyeruak, hitam pekat laksana jelaga, sungguh mengerikan sebagian jiwa yang akan berteman dengan amalan jahat hingga tibanya hari kiamat. Mencekam, berbaur jeritan keras memekakkan telinga, "Jangan Kau datangkan kiamat yaa Allah, sungguh hamba disini sudah sangat tersiksa!!!" saat diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka.
Bagi sebagian lainnya, alam kubur justru membuat bahagia. Berteman amal sholeh yang diibaratkan sebagai manusia dengan paras sangat menyenangkan. Lalu ia pun menjerit, menangis bahagia saat ditunjukkan tempatnya di surga, "Datangkan hari kiamat sekarang yaa Allah, hamba ingin segera ke sana, kembali kepada keluarga dan harta hamba!!!"
Kematian...
Erat menyiratkan takut dan pilu serta lantunan senandung duka. Menciptakan nada-nada pedih dan gamang yang kadang menghujam iman, hingga hati pun bertanya, mengapa selalu ada perpisahan? Rasa itu menghantam dan menikam pada keluarga yang ditinggalkan. Namun kematian adalah suatu keniscayaan, karena ia telah dijanjikan. Kematian pun hakikatnya adalah sahabat akrab bagi setiap yang bernyawa. Sayang, kesadaran itu begitu menghentak saat orang-orang yang kita cintailah yang direnggutnya. Ketika itu auranya begitu dekat, serasa setiap helaan nafas beraroma kematian.
Duhai jiwa... Sadarkah engkau bahwa kelak kuburan adalah tempat peristirahatan? Sudahkah engkau siapkan malam pertama di sana, seperti kau sibukkan diri menjelang malam pertama pernikahan? Tidakkah engkau tahu bahwa ia adalah malam yang sangat mengerikan, malam yang membuat orang-orang sholeh menangis saat memikirkannya.
Kau gerakkan lidah ini untuk membaca Al Qur'an, tetapi tingkah lakumu tak pernah kau selaraskan. Kau kenal setan, tapi mereka kau jadikan teman. Kau ucapkan bahwa Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam adalah kecintaan, namun sunnah-Nya kau tinggalkan. Kau katakan ingin masuk surga, tapi tak pernah berhenti berbuat dosa. Tak henti-hentinya kau sibukkan dirimu dengan kesalahan saudaramu sendiri, padahal engkau pun bukan manusia suci. Saat kau kebumikan sahabat - sahabat yang telah mendahului, mengapa kau mengira dirimu tak akan pernah mati? Astaghfirullaahal 'adzim...
Duhai Allah... Engkau yang Maha Mendengar. Dengarkan munajat ini yaa Robbi, berilah kesempatan untuk kami selalu memperbaiki diri. Jadikan diri ini bersih, hingga saat menghadap-Mu nanti
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Allaahumma hawwin 'alainaa fii sakaraatil maut
Ringankan kematian kami yaa Allah, mudahkanlah duhai Pemilik Jiwa.
Jadikan hati ini ikhlas saat malaikat maut menyapa....
Sabtu, 30 Agustus 2008
Orang Sibuk dan Pengangguran
Orang sibuk cenderung akan hati-hati dan cenderung menghargai dengan tutur kata yang elegan, sederhana dan ramah. Mereka tidak berbohong dan cenderung untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Mereka cepat belajar dan akan menyesuaikan dengan cepat. orang-orang sibuk adalah orang-orang yang bisa dipercaya.
Rabu, 30 April 2008
Adakah Cinta Sejati?
Adakah Cinta Sejati?
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia bisa merasa tenang tanpa ada kekhawatiran sedikitpun. Khawatir untuk berpisah atau dipisahkan. Karena tak ada jarak antara keduanya. Tak ada yang merintangi keduanya. Keduanya berbaur dalam hati masing-masing. Kesendirian yang terjadi hanya akan mendekatkan keduanya dalam rasa dan perasaan. Akan ditunggu hingga keduanya bisa bersama lagi.
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia bisa memberikan yang terbaik tanpa harus menuntut apapun juga dari sang kekasih hati. Kekasih yang bagi dirinya adalah tempat untuk mencurahkan segala rasa. Rasa sedih, rasa gembira, rasa penat dan dahaga yang mendalam akan kehidupan dunia. Hal yang terbaiklah yang senantiasa diberikan oleh pecinta sejati, walaupun bagi orang lain hal itu biasa saja. Persembahan terbaik adalah gambaran sempurna seorang pecinta sejati.
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia bisa menerima keadaan kekasihnya yang bagaimanapun juga. Keadaan yang berparas kejam atau bermuka manis dalam kancah kehidupan yang tak pasti. Tak selamanya dunia bersikap muram pada keadaan diri, namun juga tak selamanya melayani keinginan yang menggebu. Seorang pecinta sejati hanya bisa mengerti bahwa kekasihnya telah berusaha dengan keras, maka hasil yang diperoleh pun adalah hasil yang maksimal, tak peduli itu berapapun nilainya.
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia bisa berkorban. Tentang apa saja yang dimilikinya. Harta adalah hal yang biasa, dan nyawa pun salah satunya. Karena bagi pecinta sejati kekasihnya adalah lebih berharga dari apapun juga. Tak rela diri jika harus melihat kekasihnya dalam keadaan yang berbahaya. Atau kekasihnya berada dalam rasa yang membahayakan cinta kasih keduanya.
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia menjaga kesetiaan. Setia karena merasa dirinya adalah bagian dari diri kekasihnya. Bagi keduanya semua rasa adalah satu. Rasa pedih pada satu sisi akan menjadi rasa pedih disisi lain, rasa manis disatu sisi akan menjadi rasa manis disisi lain. Tak ada dusta antara keduanya, dan tak ada yang bisa menghancurkan kejujuran antara keduanya. Rasa saling percaya ada dalam genggaman erat para pecinta sejati.
Adakah cinta sejati itu?
Yang dengannya manusia bisa saling mencintai hingga berakhirnya dunia ini. Kecintaan antara keduanya takkan pupus dengan terpisahnya diri oleh maut. Maut hanya memisahkan nyawa dari jasad, namun tidak memisahkan hati dan jiwa di dalam rasa kebersamaan. Cinta sejati adalah cinta yang tak habis dibawa mati. Dialah yang menghiasi perjalanan hidup ini.
Lalu adakah cinta sejati itu?
Heri, 10 Nov 2004
Ketahuilah,
Bunga
Bunga
Di taman ini ada tangkai dan bunga
Tangkai yang senantiasa setia merawat bunga
Menjaga dan memberikan segala yang diperlukannya
Hingga bungapun mekar dengan indahnya
Keduanya nampak indah dan serasi berdampingan
Ketika bunga sedih, tangkai berusaha menghiburnya
Ketika bunga menangis, tangkai membuatnya tertawa
Ketika bunga layu, tangkai berusaha menyegarkannya
Ketika bunga bahagia, tangkaipun ikut merasakannya
Namun hal yang paling dibenci tangkai kepada bunga
Adalah ketika bunga mengumbar aroma wanginya
Hingga menarik perhatian orang yang berlalu disampingnya
Tak lama bungapun berkenan dipetik dan dibawa
Tangkai yang bersedih meratapi nasibnya
Bertanya-tanya, mengapa bunga berbuat kejam?
Tidakkah ia menyadari akan pentingnya kebersamaan
Namun mengapa bunga berkhianat?
Tangkai kini bergumul dengan sepi
Sendiri dalam mimpi berselimut sunyi
Akhirnya tak kuat rasa menanti
Terkapar mengering dan mati
Bunga tak pernah menyadari betapa berartinya tangkai
Terjebak keadaan yang menarik dan terbuai
Keadaan bunga pun semakin lemah dan terkulai
Tersadarlah bunga bahwa ia tak jua mampu bertahan lama
Karena ranting penyangganya telah terpisah
Terlepas, karena keinginan bunga yang sesaat
Kering layu dan mati
Akhirnya bunga menyusul sang tangkai pergi
Meninggalkan keadaan dunia yang sangat melenakan ini
Keadaan yang berbeda jauh dari mimpi
Keputusan yang tak bisa disesali
Ketika tangkai kembali bertemu bunga dialam sana
Tangkai pun bertanya “Mengapa kau tak setia?”
Dalam tangis bunga menjawab “Maafkan saya....”
Heri, 10 Nov 2004
MENCARI ISTRI SEMPURNA
Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba belum menemukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.
Sungguh, di dunia yang fana ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati.
Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.
Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum - kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.
Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun - ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya.
"Selamat pagi, Mawar." Mawar membalas dengan senyum yang menyejukkan.
"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?"
"Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara."
"Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."
"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."
"Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali."
"Terima kasih Mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini."
Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna.
Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat - coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata - bata hamba berusaha menyusun kata - kata, menuai kalimat - kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi menelurkan deretan huruf.
"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidak sempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"
"Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"
"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."
"Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."
"Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."
Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.
***
Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia kepakkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi - lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk mendekatinya dan memulai percakapan.
"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."
"Apa yang hendak anda inginkan?"
"Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari."
"Betulkah aku yang anda cari?"
"Ya... tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."
"Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."
"Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."
"Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba akan bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."
Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh... rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?
Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu. Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung gagak yang rindu akan bangkai - bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam tempat sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan - angan, bertubi - tubi mulut hamba memukul angin.
Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada angka tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.
"Hey, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirahat barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba mengganggu. Tapi ketika hamba mau kembali, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan suara yang pernah saya dengar sebelumya. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa - doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seumpat cahaya itu yang bicara. Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar.
Suara itu berkata :
"Betulkah engkau mencari istri yang sempurna?"
Dengan terbata-bata hamba bilang,
"Ya... ya.. hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?"
Suara itu kembali berujar.
"Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaring. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih... Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, indah cantik rupawan.
"Siapa anda?"
"Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Bersamalah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini. Alam kematian."
Ya, ternyata teman hidup sempurna hanya ada di alam kubur. Sempurna baiknya, atau sempurna buruknya tergantung amalan hamba. Ia yang paling setia menemani hamba hingga datangnya hari kiamat.
Begitulah kabar hamba kali ini.
Ada lagi yang mau mencari istri sempurna?
Heri, 31 Maret 2004