Harus ada hasrat, sehingga dia merasa cemburu terhadap diri sendiri.
Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan saat itu.
Kekuatan jiwa untuk mengetahui bahwa sebaik-baik hidup ialah seseorang mengetahui hidup dengan kesabarannya.
Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dikemudian hari
Mempertimbangkan penderitaan yang akan dirasakan jika menuruti nafsu
Mementingkan kedudukannya di sisi Allah dan di hati hamba-Nya.
Mementingkan kehormatan diri dari kelezatan sesaat.
Kebanggaan untuk menundukkan nafsu.
Memikirkan bahwa kita diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu. Tetapi untuk ibadah.
Menyadari bahwa kedudukannya lebih baik dari binatang. Dan menghindari tabiat binatang tersebut.
Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu.
Orang berakal harus mampu menggambarkan sebab dan akibat suatu perbuatan.
Mempertimbangkan hak orang lain.
Memikirkan apa yang sebenarnya dituntut oleh jiwanya, bertanyalah kepada akal dan agamanya.
Menghinakan diri sendiri jika takhluk terhadap nafsu.
Mempertimbangkan keselamatan dalam beragama, kehormatan, harta dan kedudukan dengan kenikmatan yang didapat.
Jika memiliki kekuatan, semangat dan kemuliaan jiwa, maka setan tidak akan tertarik kepadanya dan tak mampu mengganggunya kecuali dengan mencuri-curi.
Nafsu tidak mencampuri sesuatu kecuali merusaknya
Jalan pintu masuk setan dalam diri manusia adalah nafsu
Allah menyerupakan para pengikut nafsu dengan binatang yang paling buruk
Pengikut nafsu tidak layak ditaati
Nafsu adalah dinding pagar neraka jahanam
Dikhawatirkan orang yang memperturutkan hawa nafsu akan lepas keimanannya
Menentang hawa nafsu memberikan kekuatan tubuh, hati dan lisan.
Barang siapa yang memanjakan nafsunya dia telah merusak akal dan pikirannya
Barang siapa yang melapangkan hatinya dengan nafsu, maka Allah akan menyempitkan kuburnya
Akal dan nafsu dua hal yang saling bertentangan
Allah menjadikan hati sebagai raja.
Menentang nafsu mendatangkan kedudukan yang mulia di dunia dan di akhirat
Allahlah yang layak dimintai pertolongan untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Rabu, 30 April 2008
CARA MENAKHLUKKAN NAFSU :
JIKA KAU EGOIS
Dalam diri setiap manusia tertanam berbagai macam sifat. Hati adalah pusat dari segala rasa. Dengannya manusia dapat menilai dua hal yang bertentangan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah sifat yang bisa membuat hati menjadi keras sekeras batu. Yang tak bisa lagi bersikap lunak, bahkan ia cenderung patah ketika hendak diluruskan. Sifat yang membuat hati menjadi seperti gelas yang mudah pecah. Jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, hatinya akan hancur dan sulit untuk disatukan kembali. Rasa yang ada berpadu menghasilkan ekspresi dari keadaan hati seseorang. Hindari sifat ini. Lebih sulit mana: merawat gelas yang masih utuh, ataukah menyatukan kembali pecahan - pecahan gelas? Tentu lebih sulit menyatukan pecahan gelas. Maka dari itu hindari sifat egois dalam diri, yang bisa membuat hati keras seperti batu. Bersihkan hati, buat perubahan.
Beberapa diantara keburukan jika kamu egois ialah :
Mudah bosan dengan apa yang ada.
Ini tidak bisa dipungkiri, seseorang yang mempunyai sifat egois cenderung mudah bosan. Dalam bahasa jawa disebut demenyar. Ia menyukai hal-hal yang baru. Ini sebenarnya positif jika diterapkan dalam hal-hal yang bersifat produktif. Hal ini akan menghasilkan kreasi dan karya-karya baru. Namun jika dalam hal yang konsumtif ini tidaklah baik. Cenderung kepada pemborosan, dan menimbulkan hal-hal negatif lainnya.
Pemarah, sulit mengendalikan emosi.
Sukar untuk diajak kompromi, maunya menang sendiri.
Merasa paling benar. Ini sangatlah tidak baik. Bagaimanapun juga kita membutuhkan orang lain. Dalam mengambil keputusan apalagi yang menyangkut orang banyak. Jika ego yang ditonjolkan kau akan ditinggalkan orang banyak.
Jika dinasehati kamu akan merasa terhina, bukannya berubah.
Jika diperingatkan kamu akan dendam, harusnya instropeksi.
Tidak mau menerima teguran/peringatan, merasa benar sendiri.
Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu, meremehkan orang lain.
Sombong, menganggap dirimu diatas kemampuan orang lain.
Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kau merasa dirimu diatas orang lain, maka sebenarnya kau berada dibawah orang itu. Betapa tidak, kasus sombong yang pertama terjadi ketika Iblis merasa lebih hebat dari Adam. Ternyata Iblis yang merasa lebih hebat dari Adam adalah makhluk yang jauh-jauh lebih hina dari Adam. Mengapa? Karena kesombongannya itulah yang membuat Iblis menjadi hina.
Dengki, merasakan kesusahan jika melihat orang lain senang, bergembira bila melihat orang lain mendapat musibah.
Keji, ini sungguh keji. Ketika melihat orang mendapat musibah kok malah merasa senang, kadang menertawakannya. Harusnya lihat kedalam diri. Bagaimana jika kau yang terkena musibah tersebut. Kalaulah tidak bisa membantu minimal jangan menertawakannya. Walaupun kepada orang yang membenci kita, hendaknya kita tidak memperlakukan seperti itu. Perlakukan orang sebagaimana kita jika membutuhkan hal yang sama. Bantulah orang lain dikala susah, maka orangpun akan dengan senang hati membantu dikala kita mendapat musibah.
Iri, menderita dikarenakan orang lain bisa memperoleh sesuatu, dan berusaha menyaingi atau menjatuhkan.
Sakit hati karena ndak bisa memperoleh sesuatu, sedang orang lain bisa memperolehnya. Ini terjadi mungkin dikarenakan usaha yang kau lakukan kurang tepat, atau cara yang kau tempuh salah, atau kau tidak melakukan apa-apa sementara orang lain bisa suskses karena usahanya. Ini lucu, iri buta namanya. Harusnya yang ditengok adalah bagaimana cara menempuh suksesnya bukan dengan menjatuhkannya.
Gengsi, ingin tampil lebih dari yang lain, tak mau disaingi.
Gengsi gede-gedean bisa bikin bangkrut. Gak punya duit tapi ingin tampil layaknya orang kaya, ngutang sana-sini kan repot kalau udah waktunya ngembaliin. Ingin tampil seperti orang kaya, pake mobil atau motor tapi cuma pinjem, beresiko kalau rusak. Mending tampil apa adanya, semampunya seadanya dan sesuai dengan kemampuannya.
Hasut, mengajak orang lain untuk memusuhi orang yang kau benci.
Jadi provokator. Enak kayaknya bisa punya banyak pengikut, tapi hati-hati ketika orang yang kau ajak untuk memusuhi mengetahui kelakuan burukmu bisa jadi berabe urusannya. Mendingan cari teman yang banyak, jangan mengajak orang untuk mencari musuh.
Buruk sangka, menuduh perbuatan orang lain selalu buruk.
Dari pada menilai perbuatan orang, mendingan menilai perbuatan diri sendiri. Bercermin dan melakukan perhitungan, apakah perbuatan kita banyak merugikan orang apa ndak atau malah merugikan diri sendiri. Itu yang sebaiknya dihitung.
Tidak bersyukur, kecewa atas hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya. Kecewa kadang menjadi hal yang lumrah, namun jangan kecewa dengan berlebihan karena akan membuat buruk sangka kepada Allah. Cenderung menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi. Lebih parah jika menyalahkan Allah, apalagi menganggap Allah tidak adil dsb. Ini sangat merusak aqidah. Syukuri apa yang kau dapat, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu.
Tidak pernah puas, menuruti hawa nafsu.
Orang yang menuruti nafsu bagaikan lautan. Berapa banyak air yang dimiliki lautan? Tapi toh ia masih menginginkan air dari beribu sungai dan muara. Jika manusia menuruti nafsu memang tak ada habisnya.
Suka mengatur, namun susah diatur.
Merasa jadi boss. Kalau boss beneran sih banyak yang patuh, walaupun hatinya nggrundel. Orang egois cenderung menginginkan orang lain sesuai dengan keinginannya. Padahal ia gak pernah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia sendiri kadang gak taat peraturan.
Suka bicara, namun tak mau mendengar.
Pandai berbicara, menginginkan semua orang mendengarkan apa yang dikatakannya. Ketika orang lain yang berkata ia nggak mau mendengar berlagak pilon atau ngomong gak nyambung.
Hati mudah resah, patah hati, putus asa (ciut hatinya).
Frustasi, menganggap dirinya orang yang paling menderita didunia. Merasa diri paling sial.
Mudah menyerah, nglokro, jalan berfikirnya pendek.
Usaha yang setengah-setengah. Kurang bersungguh-sungguh. Inginnya segala urusan beres dengan sendirinya.
Segala sesuatu diukur dengan hati, jika ia senang maka itu baik, jika tak senang maka itu buruk.
Ini sangat berbahaya. Karena timbangan antara baik dan buruk, benar dan salah, tidak semata-mata diukur dengan hati. Ya, kalau hatinya bersih ini dapat digunakan, kalau busuk? Sebenarnya ada timbangan lain yang harus digunakan yaitu syariah. Tanya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk suatu perkara yang kita ragu akan benar dan salahnya, halal dan haramnya dll.
Dan tentunya masih banyak lagi keburukan orang yang egois ......
Heri, 21-10-03
Minggu, 06 April 2008
Aku akan datang dan menciummu..
Dear Friends,
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu, yang penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.
Kini setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menginjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi, aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa, hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya, saat itulah aku menyadari ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Dari “temanmu” untuk teman yang lain........
Minggu, 23 Maret 2008
Untuk saya renungkan......
Ketika saya mengatakan hidup ini sulit, sesungguhnya Allah tidak membebani hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya. Dan hal terberat yang saya alamipun tentu sudah diperhitungkan oleh Allah untuk membuat kita jauh lebih baik, jika kita tepat menyikapinya. Namun kadang saya menganggap Allah tidak memperhatikan saya. Dan itu salah.
Mas Her, 11 Sept 03
Lebih indah mana
Apakah hamparan padang pasir yang panas meranggas, yang diantara sesak pasir jarang sekali ditemukan air? Pohonpun layu sebelum tumbuh, dan mati sebelum membesar. Kecuali sedikit sekali tumbuhan di dekat oase yang kebetulan ada airnya.
Ataukah lautan luas yang menyimpan banyak sekali air? Bahkan ketika itu pula laut masih terus saja diisi oleh sungai-sungai yang tak hentinya mengalir.
Ternyata keduanya menampakkan kerakusan. Padang pasir tak pernah menghantarkan udara sejuk sama sekali. Bahkan ketika malam datangpun keadaan tetap sama. Laut juga tak pernah menampakkan untuk memberi air kepada daratan kecuali air bah yang menghancurkan.
Hampir tak ada kesan indah. Kecuali perpaduan antara keduanya. Ketika kuperhatikan pantai dengan nyiurnya yang melambai seakan menawarkan kesejukkan yang tak terperi. Memang disana ada keindahan.
Memang pertemuan antara laut dan pasir akan menampilkan kesejukkan yang sangat. Panasnya mentari tak lagi terasa seperti di padang pasir. Kesejukkan yang dirindukan banyak orang. Akankan keduanya terus menyatu untuk menghilangkan jenuhnya pikiran dari panasnya dunia dan harapan yang tak kunjung pupus?
Keindahan dunia adalah hiasan mata, tapi akankah itu melenakan?
Padahal banyak sekali yang telah terlena?
Dan kau?
Jumat, 25 Juni 2004
Siapa yang aneh ?
Aneh. Telinga ini mampu mendengarkan lagu-lagu sampai hafal lirik dan nadanya, namun untuk mendengar pengajian serasa jenuh dan membosankan.
Aneh. Mulut ini betah ngerumpi hingga lupa waktu, namun untuk mengucapkan dzikir sepertinya nggak ada waktu.
Aneh. Langkah kaki ini serasa ringan untuk pergi bermain, namun terasa sangat berat untuk datang ke masjid dan bersilaturahmi.
Aneh. Uang seribu rupiah sangatlah kurang untuk membeli sebungkus rokok, namun menjadi terasa sangat besar untuk berinfaq dan bersedekah.
Aneh. Kulit ini akrab dengan penyejuk dan pelembab yang bisa membuatnya halus, namun asing bagi air wudlu yang bisa membersihkan dan mensucikannya.
Aneh. Perasaan kecewa dan putus asa ketika nilai ujian jeblok, namun tak pernah merasa menyesal ketika pemahaman akan agama kurang.
Aneh. Tubuh ini begitu PD dengan baju yang indah dan menarik perhatian, namun jadi minder ketika mengenakan sarung atau mukena.
Aneh. Berkurangnya uang di dompet membuat bingung dan penasaran, namun ketika iman dihati berkurang tetap tenang-tenang saja.
Aneh. Tengah malampun bisa terbangun dari tidur untuk nonton sepak bola, namun untuk sholat tahajud perjuangan yang teramat berat untuk bisa bangun.
Aneh. Merasa sangat kecewa ketika ndak bisa jalan-jalan bareng, namun tak pernah merasa kehilangan ketika terlewat dan terlupa waktu sholat.
Aneh. Diri ini ingin sekali masuk kedalam syurga yang dijanjikan Allah, namun diri ini berat untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan Allah.
Aneh. Diri ini tak ingin masuk kedalam neraka yang diancamkan Allah, namun diri ini kadang enggan untuk meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah.
Jaman ini memang jaman yang aneh. Banyak orang melakukan hal yang aneh-aneh. Orang yang berbuat baik pun dianggap aneh. Lebih aneh lagi ketika orang yang dianggap aneh tadi mengatakan bahwa orang lain itu juga aneh. Dan yang paling aneh ketika seseorang itu tidak mengetahui bahwa dirinya itu aneh. Adakah orang yang tidak aneh ketika dunia ini sudah terlalu aneh ?
Nabi pernah mengatakan: Agama ini datang dengan terasing dan akan pergi dengan terasing pula.
Nabi juga pernah mengatakan : Akan datang suatu masa yaitu ketika orang-orang yang memegang teguh agamanya dianggap sebagai orang yang aneh. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh.
Lalu siapakah yang seharusnya aneh?