Rabu, 30 April 2008

MENCARI ISTRI SEMPURNA

Hamba mencari istri sempurna. Lelah hati dan jiwa. Hamba mencari kemana-mana, alhasil hamba belum menemukan belahan jiwa itu. Setiap hari hamba berdoa, namun belum juga terkabul. Mungkin inilah perjuangan. Lama-lama hamba mulai menikmati kehidupan ini. Walaupun jemu pernah hinggap dalam kamus kehidupan hamba, meraung-raung dalam sunyi.

Sungguh, di dunia yang fana ini, hamba mencoba menghindar dari gundukan dosa, namun laron-laron dosa itu sesekali berduyun mendekati hamba. Sekuat ruh hamba berlari-berlari menuju cahaya, dan konon, salah satu kendaraan untuk mendekatkan diri dengan cahaya itu adalah mendapatkan seorang istri. Ya, hamba mencari istri sempurna, agar hamba bisa menyempurnakan niat hamba, bercengkrama dengan cahaya sejati.

Hamba bergelut dengan hari-hari, mencari secercah cahaya untuk bisa hamba huni dari kegelapan yang semakin gandrung menyelimuti hati hamba lagi. Hamba akui di setiap arah jam yang bergulir ada terpendam berjuta rahasia yang tak bisa hamba singkap keberadaannya, tak mampu hamba kuliti satu persatu apa gerangan yang diinginkan Allah. Tadinya hamba berpikir bahwa hamba telah mampu meredam satu niatan hamba itu, mengubur riak-riak kehidupan yang hamba bangun dengan pondasi rapuh. Rupanya detak suara jarum jam semakin besar menghentak-hentak dan memekakan telinga hamba, lalu hamba kembali terpuruk, pikiran hamba terhuyung-huyung melangkahkan kaki tak tentu arah.

Suatu hari, hamba bertemu dengan mawar. Di taman itu ia hidup sendiri. Warnanya yang merah merekah membuat mata terkagum - kagum. Ingin rasanya hamba mempersuntingnya, memetik segala hasrat yang mulai basah kuyup dengan segala keinginan.

Sang mawar tak sadar bahwa ada yang mengamatinya. Ya Tuhan harum sekali. Ya, ketika pagi merambat, hamba merasakan keharuman yang luar biasa. Merambat ke seluruh ubun - ubun, keharuman yang menakjubkan. Hamba memberanikan diri untuk menyapanya.

"Selamat pagi, Mawar." Mawar membalas dengan senyum yang menyejukkan.

"Selamat pagi. Ada apakah gerangan, sehingga pagi-pagi begini anda bertamu ke taman yang sepi ini?"

"Hamba berniat mencari istri yang sempurna. Setiap hari tanpa sepengetahuan anda, hamba mengamati anda, lalu tumbuhlah sejumput rasa tertentu yang tak bisa terdefinisi. Anda telah menyampaikan keharuman itu lewat wewangian yang disampaikan angin. Hamba pikir andalah yang hamba cari, belahan jiwa yang sekian lama memikat hamba untuk hidup dalam kembara."

"Betulkah aku yang anda cari? Tak malukah anda menikah dengan bunga sederhana sepertiku? Apa yang membuat anda terkagum? Tak banyak yang bisa aku berikan untuk anda."

"Mawar, sudah lama hamba mencari istri yang sempurna. Mungkin inilah harapan terakhir. Melihat warnamu yang memerah, hamba terkesima. Jika anda mengizinkan, hamba ingin melamar anda. Mari kita arungi bahtera hidup ini."

"Kalau betul itu yang anda inginkan, baiklah. Tunggu barang satu minggu, setelah itu jenguklah aku kembali."

"Terima kasih Mawar. Ternyata hamba tak salah pilih. Seminggu lagi hamba akan kesini."

Hamba lantas meninggalkannya sendiri di taman itu. Hamba pergi diiringi senyum yang dramatis. Hati hamba seketika terbang ke langit. Sebentar lagi penantian hamba berakhir, hamba akan mendapatkan istri yang sempurna.

Seminggu berlalu, hamba mendatangi taman itu. Langkah kaki bersijingkat dengan sempurna, cepat dan gemulai. Ketika hamba tiba di tempat itu, tiba-tiba hati hamba melepuh, berterbanganlah harapan yang sempat mewarnai relung hati yang basah dengan tinta penantian. Mawar yang akan hamba persunting, yang akan hamba petik ternyata tak lagi berada di tangkainya. Ia telah luruh ke tanah merah, beserakan tak karuan, tak jelas lagi juntrungannya. Hamba tak habis mengerti, mengapa semua ini harus terjadi? Warna yang tadinya memerah, kini berubah kecoklat - coklatan, menjadi keriput, tak sesegar seperti minggu kemarin. Hamba menghampirinya, duduk termenung seperti seorang bocah yang merengek meminta mainan yang telah rusak. Dengan terbata - bata hamba berusaha menyusun kata - kata, menuai kalimat - kalimat. Namun mulut hamba teramat kelu, tak bisa lagi menelurkan deretan huruf.

"Selamat pagi. Masihkah ada keinginan untuk menikah dengan ketidak sempurnaanku? Inilah aku, sang mawar yang sempat membuatmu terkagum. Mengapa wajah anda tercengang dan seolah tak memahami hakikat hidup?"

"Mengapa anda menjadi seperti ini? Apakah gerangan yang salah?"

"Tak ada yang patut disalahkan. Ini adalah siklus kehidupan. Hamba hanya bisa bertabah menghadapi takdir yang membelenggu. Ini jalan yang harus hamba jalani."

"Tapi hamba mencari istri yang sempurna, Mawar."

"Jika demikian, aku bukanlah belahan jiwamu."

Hamba beranjak dari tempat itu. Kekecewaan menghantui setiap langkah yang hamba bangun. Air mata menderas. Mawar yang sempat mencengkram jiwa, kini hanya onggokan ketakutan yang tak pernah hamba mimpikan sebelumnya.


***

Kini hamba berjalan lagi menyusuri waktu, mencari istri yang sempurna. Di tengah perjalanan, hamba melihat merpati yang terbang, menari di udara. Sayap-sayapnya ia kepakkan ke seluruh penjuru alam. Sungguh cantik ia, membuat cemburu para petualang. Lagi - lagi terbersit sebuah keinginan. Keinginan klasik: Inilah istri yang sempurna, semoga hamba bisa mendapatkannya. Merpati itu hinggap di ranting pohonan. Hamba memberanikan diri untuk mendekatinya dan memulai percakapan.

"Wahai merpati, tadi hamba melihatmu bercengkrama dengan angin. Bulu putihmu yang kudus, menjadikan harapan dalam batin kembali tumbuh."

"Apa yang hendak anda inginkan?"

"Hamba mencari istri yang sempurna. Andalah yang hamba cari."

"Betulkah aku yang anda cari?"

"Ya... tentu. Hamba ingin anda terbang bersama hamba, membangun sebuah keindahan, mengarungi bahtera kehidupan."

"Jika demikian, silahkan tangkap aku. Apabila anda berhasil menangkap diriku, aku berani menjadi belahan jiwa anda. Aku akan belajar menjadi apa yang anda inginkan."

"Tapi bagaimana mungkin hamba bisa menangkap anda? Anda mempunyai dua sayap yang indah dan memesona, sedangkan hamba hanya manusia yang bisa menerbangkan imajinasi saja, selebihnya hamba adalah pemimpi yang takut dengan kehidupan."

"Segala sesuatu mungkin saja terjadi, asalkan ada maksud yang jelas dan lurus. Lebih baik anda pikirkan kembali niatan anda itu. Betulkah aku pasangan yang anda cari? Maaf, hamba akan bercengkrama dulu dengan angin, sampai jumpa."

Hamba tak bisa berkata banyak, merpati telah terbang bersama angin. Angin, oh... rupanya kekasih sejati merpati adalah angin. Hamba tak mau merusak takdir mereka. Bagaimana kata dunia kalau hamba dengan paksa menikahi sang merpati? Dunia akan mencemooh hamba sebagai manusia paling bodoh yang pernah dilahirkan. Tapi kemanakah lagi hamba harus mencari pasangan jiwa?


Itulah kabar hamba dulu. Meniti berbagai penderitaan untuk menyempurnakan segala beban yang melingkar di dasar palung jiwa hamba. Itulah gelagat hamba dulu, seperti seorang pecinta yang berkelana tak jelas arah dan tujuan, menghujani kulit lepuh para bidadari, menjadikan mereka gundah, berenang di atas lautan hampa. Begitu juga hamba. Ya, kabar hamba dulu. Memekik cinta yang bergemuruh, membadai, bercengkrama, meraja, bersengketa, meracau seperti burung gagak yang rindu akan bangkai - bangkai kematian. Dulu hamba tersesat dalam tempat sunyi tanpa nama. Hamba nyaris seperti mayat yang bergentayangan di siang hari, diperbudak angan - angan, bertubi - tubi mulut hamba memukul angin.

Sampai suatu malam, ketika keheningan mengambang di udara. Kala itu hamba tidur lelap, mencipta mimpi yang samar. Hamba dibangunkan oleh gemuruh suara. Suaranya aneh tapi nikmat dan menyejukkan. Kontan saja hamba terhenyak dan sempat kaget. Hamba mencoba memicingkan mata yang berat seperti terbebani satu ton serbuk besi. Di dinding kamar hamba melihat detak jam yang mengarah pada angka tiga. Masih sepertiga malam. Siapa gerangan yang berani mengusik persemayaman indah ini? Lalu hamba mulai merunut kata-kata.

"Hey, siapa anda? Mengapa membangunkan hamba? Biarkan hamba beristirahat barang sejenak." Hening, tak ada jawaban. Hamba pikir, ini pasti gelagat orang jahil yang mencoba mengganggu. Tapi ketika hamba mau kembali, hamba mendengar suara yang menggelegar. Bukan, suara ini bukan suara yang pernah saya dengar sebelumya. Keringat mulai menghujan, ketakutan bersalaman di batin, air mata tak bisa hamba bendung, dan rasa rindu mencengkram hamba dari belakang, rindu yang tak terdefinisi. Mungkinkah doa - doa hamba yang terdahulu akan terkabul? Siapakah gerangan yang bicara? Setelah bermilyar doa berjejalan di udara, hamba harap seumpat cahaya itu yang bicara. Ya, semoga bukan kepalsuan yang bicara. Suara itu makin keras terdengar.

Suara itu berkata :

"Betulkah engkau mencari istri yang sempurna?"

Dengan terbata-bata hamba bilang,

"Ya... ya.. hamba mencari istri yang sempurna. Mampukah anda mengabulkan keinginan hamba yang belum terwujud ini?"

Suara itu kembali berujar.

"Berbaringlah, lalu tutuplah matamu. Bukalah ketika suaraku tak terdengar lagi." Hamba ikuti keinginannya. Hamba tutup mata hamba, dan berbaring. Riangnya hati hamba, sebentar lagi hamba akan berjumpa dengan istri sempurna. Jodoh hamba akan hadir. Ah, suara itu hening. Hamba mulai memicingkan mata. Hamba lihat di sekeliling. Mengapa yang terlihat hanya gumpalan-gumpalan tanah yang kecoklatan? Mengapa begitu sejuk? Kemudian hamba melihat pakaian hamba. Putih... Semua serba putih. Bukankah ini kain kafan? Alam barzah, pikir hamba. Lalu hamba melihat sesosok tubuh datang menghampiri, begitu bercahaya, indah cantik rupawan.

"Siapa anda?"

"Hamba adalah amalan anda. Hamba tercipta dari anda, istri sempurna yang anda ciptakan sendiri. Bersamalah dengan hamba, sambil menunggu semua manusia kembali ke alam sunyi ini. Alam kematian."

Ya, ternyata teman hidup sempurna hanya ada di alam kubur. Sempurna baiknya, atau sempurna buruknya tergantung amalan hamba. Ia yang paling setia menemani hamba hingga datangnya hari kiamat.


Begitulah kabar hamba kali ini.

Ada lagi yang mau mencari istri sempurna?

Heri, 31 Maret 2004

CARA MENAKHLUKKAN NAFSU :

  • Harus ada hasrat, sehingga dia merasa cemburu terhadap diri sendiri.

  • Harus memiliki seteguk kesabaran dalam menghadapi kepahitan yang dirasakan saat itu.

  • Kekuatan jiwa untuk mengetahui bahwa sebaik-baik hidup ialah seseorang mengetahui hidup dengan kesabarannya.

  • Mempertimbangkan kelanjutan yang baik dikemudian hari

  • Mempertimbangkan penderitaan yang akan dirasakan jika menuruti nafsu

  • Mementingkan kedudukannya di sisi Allah dan di hati hamba-Nya.

  • Mementingkan kehormatan diri dari kelezatan sesaat.

  • Kebanggaan untuk menundukkan nafsu.

  • Memikirkan bahwa kita diciptakan bukan untuk kepentingan nafsu. Tetapi untuk ibadah.

  • Menyadari bahwa kedudukannya lebih baik dari binatang. Dan menghindari tabiat binatang tersebut.

  • Melibatkan hati dalam mempertimbangkan akibat nafsu.

  • Orang berakal harus mampu menggambarkan sebab dan akibat suatu perbuatan.

  • Mempertimbangkan hak orang lain.

  • Memikirkan apa yang sebenarnya dituntut oleh jiwanya, bertanyalah kepada akal dan agamanya.

  • Menghinakan diri sendiri jika takhluk terhadap nafsu.

  • Mempertimbangkan keselamatan dalam beragama, kehormatan, harta dan kedudukan dengan kenikmatan yang didapat.

  • Jika memiliki kekuatan, semangat dan kemuliaan jiwa, maka setan tidak akan tertarik kepadanya dan tak mampu mengganggunya kecuali dengan mencuri-curi.

  • Nafsu tidak mencampuri sesuatu kecuali merusaknya

  • Jalan pintu masuk setan dalam diri manusia adalah nafsu

  • Allah menyerupakan para pengikut nafsu dengan binatang yang paling buruk

  • Pengikut nafsu tidak layak ditaati

  • Nafsu adalah dinding pagar neraka jahanam

  • Dikhawatirkan orang yang memperturutkan hawa nafsu akan lepas keimanannya

  • Menentang hawa nafsu memberikan kekuatan tubuh, hati dan lisan.

  • Barang siapa yang memanjakan nafsunya dia telah merusak akal dan pikirannya

  • Barang siapa yang melapangkan hatinya dengan nafsu, maka Allah akan menyempitkan kuburnya

  • Akal dan nafsu dua hal yang saling bertentangan

  • Allah menjadikan hati sebagai raja.

  • Menentang nafsu mendatangkan kedudukan yang mulia di dunia dan di akhirat

  • Allahlah yang layak dimintai pertolongan untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

JIKA KAU EGOIS

Dalam diri setiap manusia tertanam berbagai macam sifat. Hati adalah pusat dari segala rasa. Dengannya manusia dapat menilai dua hal yang bertentangan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah sifat yang bisa membuat hati menjadi keras sekeras batu. Yang tak bisa lagi bersikap lunak, bahkan ia cenderung patah ketika hendak diluruskan. Sifat yang membuat hati menjadi seperti gelas yang mudah pecah. Jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, hatinya akan hancur dan sulit untuk disatukan kembali. Rasa yang ada berpadu menghasilkan ekspresi dari keadaan hati seseorang. Hindari sifat ini. Lebih sulit mana: merawat gelas yang masih utuh, ataukah menyatukan kembali pecahan - pecahan gelas? Tentu lebih sulit menyatukan pecahan gelas. Maka dari itu hindari sifat egois dalam diri, yang bisa membuat hati keras seperti batu. Bersihkan hati, buat perubahan.

Beberapa diantara keburukan jika kamu egois ialah :

  • Mudah bosan dengan apa yang ada.

Ini tidak bisa dipungkiri, seseorang yang mempunyai sifat egois cenderung mudah bosan. Dalam bahasa jawa disebut demenyar. Ia menyukai hal-hal yang baru. Ini sebenarnya positif jika diterapkan dalam hal-hal yang bersifat produktif. Hal ini akan menghasilkan kreasi dan karya-karya baru. Namun jika dalam hal yang konsumtif ini tidaklah baik. Cenderung kepada pemborosan, dan menimbulkan hal-hal negatif lainnya.

  • Pemarah, sulit mengendalikan emosi.

  • Sukar untuk diajak kompromi, maunya menang sendiri.

Merasa paling benar. Ini sangatlah tidak baik. Bagaimanapun juga kita membutuhkan orang lain. Dalam mengambil keputusan apalagi yang menyangkut orang banyak. Jika ego yang ditonjolkan kau akan ditinggalkan orang banyak.

  • Jika dinasehati kamu akan merasa terhina, bukannya berubah.

  • Jika diperingatkan kamu akan dendam, harusnya instropeksi.

  • Tidak mau menerima teguran/peringatan, merasa benar sendiri.

  • Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu, meremehkan orang lain.

  • Sombong, menganggap dirimu diatas kemampuan orang lain.

Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kau merasa dirimu diatas orang lain, maka sebenarnya kau berada dibawah orang itu. Betapa tidak, kasus sombong yang pertama terjadi ketika Iblis merasa lebih hebat dari Adam. Ternyata Iblis yang merasa lebih hebat dari Adam adalah makhluk yang jauh-jauh lebih hina dari Adam. Mengapa? Karena kesombongannya itulah yang membuat Iblis menjadi hina.

  • Dengki, merasakan kesusahan jika melihat orang lain senang, bergembira bila melihat orang lain mendapat musibah.

Keji, ini sungguh keji. Ketika melihat orang mendapat musibah kok malah merasa senang, kadang menertawakannya. Harusnya lihat kedalam diri. Bagaimana jika kau yang terkena musibah tersebut. Kalaulah tidak bisa membantu minimal jangan menertawakannya. Walaupun kepada orang yang membenci kita, hendaknya kita tidak memperlakukan seperti itu. Perlakukan orang sebagaimana kita jika membutuhkan hal yang sama. Bantulah orang lain dikala susah, maka orangpun akan dengan senang hati membantu dikala kita mendapat musibah.

  • Iri, menderita dikarenakan orang lain bisa memperoleh sesuatu, dan berusaha menyaingi atau menjatuhkan.

Sakit hati karena ndak bisa memperoleh sesuatu, sedang orang lain bisa memperolehnya. Ini terjadi mungkin dikarenakan usaha yang kau lakukan kurang tepat, atau cara yang kau tempuh salah, atau kau tidak melakukan apa-apa sementara orang lain bisa suskses karena usahanya. Ini lucu, iri buta namanya. Harusnya yang ditengok adalah bagaimana cara menempuh suksesnya bukan dengan menjatuhkannya.

  • Gengsi, ingin tampil lebih dari yang lain, tak mau disaingi.

Gengsi gede-gedean bisa bikin bangkrut. Gak punya duit tapi ingin tampil layaknya orang kaya, ngutang sana-sini kan repot kalau udah waktunya ngembaliin. Ingin tampil seperti orang kaya, pake mobil atau motor tapi cuma pinjem, beresiko kalau rusak. Mending tampil apa adanya, semampunya seadanya dan sesuai dengan kemampuannya.

  • Hasut, mengajak orang lain untuk memusuhi orang yang kau benci.

Jadi provokator. Enak kayaknya bisa punya banyak pengikut, tapi hati-hati ketika orang yang kau ajak untuk memusuhi mengetahui kelakuan burukmu bisa jadi berabe urusannya. Mendingan cari teman yang banyak, jangan mengajak orang untuk mencari musuh.

  • Buruk sangka, menuduh perbuatan orang lain selalu buruk.

Dari pada menilai perbuatan orang, mendingan menilai perbuatan diri sendiri. Bercermin dan melakukan perhitungan, apakah perbuatan kita banyak merugikan orang apa ndak atau malah merugikan diri sendiri. Itu yang sebaiknya dihitung.

  • Tidak bersyukur, kecewa atas hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya. Kecewa kadang menjadi hal yang lumrah, namun jangan kecewa dengan berlebihan karena akan membuat buruk sangka kepada Allah. Cenderung menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi. Lebih parah jika menyalahkan Allah, apalagi menganggap Allah tidak adil dsb. Ini sangat merusak aqidah. Syukuri apa yang kau dapat, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu.

  • Tidak pernah puas, menuruti hawa nafsu.

Orang yang menuruti nafsu bagaikan lautan. Berapa banyak air yang dimiliki lautan? Tapi toh ia masih menginginkan air dari beribu sungai dan muara. Jika manusia menuruti nafsu memang tak ada habisnya.

  • Suka mengatur, namun susah diatur.

Merasa jadi boss. Kalau boss beneran sih banyak yang patuh, walaupun hatinya nggrundel. Orang egois cenderung menginginkan orang lain sesuai dengan keinginannya. Padahal ia gak pernah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia sendiri kadang gak taat peraturan.

  • Suka bicara, namun tak mau mendengar.

Pandai berbicara, menginginkan semua orang mendengarkan apa yang dikatakannya. Ketika orang lain yang berkata ia nggak mau mendengar berlagak pilon atau ngomong gak nyambung.

  • Hati mudah resah, patah hati, putus asa (ciut hatinya).

Frustasi, menganggap dirinya orang yang paling menderita didunia. Merasa diri paling sial.

  • Mudah menyerah, nglokro, jalan berfikirnya pendek.

Usaha yang setengah-setengah. Kurang bersungguh-sungguh. Inginnya segala urusan beres dengan sendirinya.

  • Segala sesuatu diukur dengan hati, jika ia senang maka itu baik, jika tak senang maka itu buruk.

Ini sangat berbahaya. Karena timbangan antara baik dan buruk, benar dan salah, tidak semata-mata diukur dengan hati. Ya, kalau hatinya bersih ini dapat digunakan, kalau busuk? Sebenarnya ada timbangan lain yang harus digunakan yaitu syariah. Tanya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk suatu perkara yang kita ragu akan benar dan salahnya, halal dan haramnya dll.

  • Dan tentunya masih banyak lagi keburukan orang yang egois ......


Heri, 21-10-03

TULANG RUSUK KU

Hamba adalah salah seorang cucu Adam yang lahir diantara milyaran manusia. Hamba mencoba menelusuri jejak kakek moyang hamba itu. Mencari sesuatu yang hilang dari dalam diri.

Pengembaraan diri di padang kehidupan sudah lama hamba lalui sendiri. Sudah banyak yang telah hamba lakukan, tapi dimanakah pasangan diri hamba? Yang bisa memberi ketenangan dikala gundah. Memberikan pencerahan dikala suntuk. Memberikan nasihat dikala salah dan khilaf. Tempat berbagi dikala senang. Tempat mengadu dikala susah. Orang yang bisa menemani hamba dengan segala kekurangan hamba.

Dalam kesendirian hamba merenung. Hamba masih dapat melaui hari-hari dalam sendiri tapi sampai kapan? Apakah belum tiba waktunya untuk hamba mendapatkan pasangan? Sekedar tempat untuk bertukar pikiran. Tempat untuk menceritakan berbagai pengalaman dan kenangan dimasa silam.

Dimanakah ia? Apakah ia jauh dan hamba belum pernah mengenalnya. Ataukah ia dekat dan hamba sudah mengetahuinya.

Hamba semakin bingung dimana harus mencari. Diantara jutaan wanita itu hanya satu yang menyimpan tulang rusuk hamba. Siapakah ia yang menyimpan tulang rusuk hamba? Ya Allah dekatkanlah hamba kepadanya. Untuk menuju ketentuan-Mu mengikuti perjalanan kakek moyang hamba. Menyempurnakan kehidupan dan agama hamba. Di dunia hingga diakhirat nanti.

Dan hamba yakin, bila sudah saatnya semua juga akan terjadi. Yang hamba mohon adalah yang terbaik untuk hamba. Hamba tak ingin memaksakan seseorang untuk menjadi bagian diri hamba. Yang hamba inginkan adalah orang yang benar-benar merupakan bagian dari diri hamba.

Biarlah kini tulang rusuk hamba disimpan. Hingga nanti saatnya ia menampakkan diri. Akan hamba terima dengan senang hati.

Hai....... kau kah yang menyimpan tulang rusukku?

Heri, 28 April 2004

Minggu, 06 April 2008

Aku akan datang dan menciummu..


Dear Friends,

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku "dipaksa" membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengijinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu, yang penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.
Kini setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menginjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi, aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa, hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya, saat itulah aku menyadari ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Dari “temanmu” untuk teman yang lain........

Selasa, 01 April 2008

Mendaftar ke Friendster

Sebelum melangkah lebih jauh soal Friendster, kita coba belajar cara mendaftar ke Friendster dulu yuk. Nah, pertama kamu kudu punya email. Kalo udah, kita bisa memulai sekarang.
  1. Kunjungi website Friendster dengan alamat : http://www.friendster.com
  2. Kamu akan melihat tampilan halaman utama Friendster seperti ini :
  3. Untuk mendaftar kamu bisa langsung klik tulisan Sign Up Now di bawah kotak Sign In seperti ditunjukkan gambar berikut :
  4. Berikutnya, kamu bisa mengisi kolom2 yang ada sesuai data kamu. Jangan lupa untuk mengisi kode Verify registration sesuai gambar yang muncul. Beri cawang juga pada kotak pilihan I am over 16 years old dan pilihan satunya lagi.
  5. Setelah selesai, langsung aja klik tombol Sign Up
  6. Selamat !! Anda sudah terdaftar, berikutnya akan muncul halaman ini :
  7. Jika kamu udah punya beberapa email teman yang udah bergabung dengan Friendster, maka silahkan masukkan email mereka di kotak-kotak yang ada. Kalo belum, langsung aja klik tulisan skip this step.
  8. Selanjutnya, kamu ditawari untuk memasang foto. Kalo belum punya, langsung aja klik tulisan skip this step, tapi kalo udah punya, klik tombol browse dan tunjukkan dimana letak file fotomu.
  9. Setelah selesai, maka sebuah email akan dikirimkan ke alamat emailmu. Disana ada link verifikasi yang harus kamu klik. Insya Allah akan dijelaskan nanti dipelajaran berikutnya. Sekarang langsung aja klik tombol GET STARTED dan selamat datang di halaman utamamu.

Sampai disini, kamu telah terdaftar di Friendster, tapi keanggotaanmu masih belum sempurn, kamu perlu melakukan verifikasi email, gimana caranya? Silahkan lihat pelajari.

sumber: gudanginfo.web.id

Minggu, 23 Maret 2008

Untuk saya renungkan......

Jika saya mengatakan bahwa hidup ini sulit?, bisa saya jawab ya hidup ini memang sulit. Tetapi saat saya bertanya seberapakah sulitnya, saya menjawab sangat sulit sekali hingga saya berpikiran untuk segera berakhir. Kadang saya menganggap hidup ini teramat mudah, hingga saya terkesan santai dalam menghadapinya dan jika saya ditanya kenapa kok santai, saya hanya menjawab hidup ini ndak usah ngoyo.

Ternyata kedua pertanyaan dan jawaban saya itu salah. Sebab.....


Ketika saya mengatakan hidup ini sulit, sesungguhnya Allah tidak membebani hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya. Dan hal terberat yang saya alamipun tentu sudah diperhitungkan oleh Allah untuk membuat kita jauh lebih baik, jika kita tepat menyikapinya. Namun kadang saya menganggap Allah tidak memperhatikan saya. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan hidup ini sangat sulit sekali, sesungguhnya hanyalah masalah hati yang kadang tidak bisa menerima kenyataan. Saat saya menerima cobaan kadang saya menyalahkan dan berburuk sangka kepada Allah. Kadang saya meminta dan tidak dikabulkan, mungkin saya lupa bahwa Allah hanya memberikan hal terbaik bagi hamba-Nya selama ia melakukan apa yang digariskan-Nya. Ke-egoisan saya yang membuat saya tidak bisa menerima yang diberikan Allah karena tidak sesuai dengan keinginan saya. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan hidup ini mudah dan santai, sesungguhnya kita harus bisa memanfaatkan hidup ini dengan baik. Sekali saya salah melangkah tentu akan menodai lembaran kisah sejarah yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu semau saya, semua ada aturannya. Baik dalam kehidupan dunia maupun akherat. Jika saya sudah tidak lagi mentaati peraturan, apalah gunanya saya bekerja dan hidup. Selama ini saya sering melanggar aturan yang ada dan saya bersikap santai, bahkan merasa tak bersalah sama sekali. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan ndak usah ngoyo, sesungguhnya Allah telah menggariskan bahwa manusia harus berusaha dengan keras untuk mencapai kemuliaan dunia dan akherat. Ngoyo bisa diartikan bekerja tanpa mengingat waktu dan kondisi fisik. Namun kadang saya menganggap bahwa bekerja keras sama dengan ngoyo dan hanya akan melelahkan serta membuat capek, hasilnya kadang tidak memuaskan hati hingga saya lupa mensyukurinya. Dan itu salah.

Mas Her, 11 Sept 03