Rabu, 30 April 2008

JIKA KAU EGOIS

Dalam diri setiap manusia tertanam berbagai macam sifat. Hati adalah pusat dari segala rasa. Dengannya manusia dapat menilai dua hal yang bertentangan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah sifat yang bisa membuat hati menjadi keras sekeras batu. Yang tak bisa lagi bersikap lunak, bahkan ia cenderung patah ketika hendak diluruskan. Sifat yang membuat hati menjadi seperti gelas yang mudah pecah. Jika terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya, hatinya akan hancur dan sulit untuk disatukan kembali. Rasa yang ada berpadu menghasilkan ekspresi dari keadaan hati seseorang. Hindari sifat ini. Lebih sulit mana: merawat gelas yang masih utuh, ataukah menyatukan kembali pecahan - pecahan gelas? Tentu lebih sulit menyatukan pecahan gelas. Maka dari itu hindari sifat egois dalam diri, yang bisa membuat hati keras seperti batu. Bersihkan hati, buat perubahan.

Beberapa diantara keburukan jika kamu egois ialah :

  • Mudah bosan dengan apa yang ada.

Ini tidak bisa dipungkiri, seseorang yang mempunyai sifat egois cenderung mudah bosan. Dalam bahasa jawa disebut demenyar. Ia menyukai hal-hal yang baru. Ini sebenarnya positif jika diterapkan dalam hal-hal yang bersifat produktif. Hal ini akan menghasilkan kreasi dan karya-karya baru. Namun jika dalam hal yang konsumtif ini tidaklah baik. Cenderung kepada pemborosan, dan menimbulkan hal-hal negatif lainnya.

  • Pemarah, sulit mengendalikan emosi.

  • Sukar untuk diajak kompromi, maunya menang sendiri.

Merasa paling benar. Ini sangatlah tidak baik. Bagaimanapun juga kita membutuhkan orang lain. Dalam mengambil keputusan apalagi yang menyangkut orang banyak. Jika ego yang ditonjolkan kau akan ditinggalkan orang banyak.

  • Jika dinasehati kamu akan merasa terhina, bukannya berubah.

  • Jika diperingatkan kamu akan dendam, harusnya instropeksi.

  • Tidak mau menerima teguran/peringatan, merasa benar sendiri.

  • Merasa diri mampu melakukan segala sesuatu, meremehkan orang lain.

  • Sombong, menganggap dirimu diatas kemampuan orang lain.

Manusia diciptakan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika kau merasa dirimu diatas orang lain, maka sebenarnya kau berada dibawah orang itu. Betapa tidak, kasus sombong yang pertama terjadi ketika Iblis merasa lebih hebat dari Adam. Ternyata Iblis yang merasa lebih hebat dari Adam adalah makhluk yang jauh-jauh lebih hina dari Adam. Mengapa? Karena kesombongannya itulah yang membuat Iblis menjadi hina.

  • Dengki, merasakan kesusahan jika melihat orang lain senang, bergembira bila melihat orang lain mendapat musibah.

Keji, ini sungguh keji. Ketika melihat orang mendapat musibah kok malah merasa senang, kadang menertawakannya. Harusnya lihat kedalam diri. Bagaimana jika kau yang terkena musibah tersebut. Kalaulah tidak bisa membantu minimal jangan menertawakannya. Walaupun kepada orang yang membenci kita, hendaknya kita tidak memperlakukan seperti itu. Perlakukan orang sebagaimana kita jika membutuhkan hal yang sama. Bantulah orang lain dikala susah, maka orangpun akan dengan senang hati membantu dikala kita mendapat musibah.

  • Iri, menderita dikarenakan orang lain bisa memperoleh sesuatu, dan berusaha menyaingi atau menjatuhkan.

Sakit hati karena ndak bisa memperoleh sesuatu, sedang orang lain bisa memperolehnya. Ini terjadi mungkin dikarenakan usaha yang kau lakukan kurang tepat, atau cara yang kau tempuh salah, atau kau tidak melakukan apa-apa sementara orang lain bisa suskses karena usahanya. Ini lucu, iri buta namanya. Harusnya yang ditengok adalah bagaimana cara menempuh suksesnya bukan dengan menjatuhkannya.

  • Gengsi, ingin tampil lebih dari yang lain, tak mau disaingi.

Gengsi gede-gedean bisa bikin bangkrut. Gak punya duit tapi ingin tampil layaknya orang kaya, ngutang sana-sini kan repot kalau udah waktunya ngembaliin. Ingin tampil seperti orang kaya, pake mobil atau motor tapi cuma pinjem, beresiko kalau rusak. Mending tampil apa adanya, semampunya seadanya dan sesuai dengan kemampuannya.

  • Hasut, mengajak orang lain untuk memusuhi orang yang kau benci.

Jadi provokator. Enak kayaknya bisa punya banyak pengikut, tapi hati-hati ketika orang yang kau ajak untuk memusuhi mengetahui kelakuan burukmu bisa jadi berabe urusannya. Mendingan cari teman yang banyak, jangan mengajak orang untuk mencari musuh.

  • Buruk sangka, menuduh perbuatan orang lain selalu buruk.

Dari pada menilai perbuatan orang, mendingan menilai perbuatan diri sendiri. Bercermin dan melakukan perhitungan, apakah perbuatan kita banyak merugikan orang apa ndak atau malah merugikan diri sendiri. Itu yang sebaiknya dihitung.

  • Tidak bersyukur, kecewa atas hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya. Kecewa kadang menjadi hal yang lumrah, namun jangan kecewa dengan berlebihan karena akan membuat buruk sangka kepada Allah. Cenderung menyalahkan orang lain atas kegagalan yang terjadi. Lebih parah jika menyalahkan Allah, apalagi menganggap Allah tidak adil dsb. Ini sangat merusak aqidah. Syukuri apa yang kau dapat, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepadamu.

  • Tidak pernah puas, menuruti hawa nafsu.

Orang yang menuruti nafsu bagaikan lautan. Berapa banyak air yang dimiliki lautan? Tapi toh ia masih menginginkan air dari beribu sungai dan muara. Jika manusia menuruti nafsu memang tak ada habisnya.

  • Suka mengatur, namun susah diatur.

Merasa jadi boss. Kalau boss beneran sih banyak yang patuh, walaupun hatinya nggrundel. Orang egois cenderung menginginkan orang lain sesuai dengan keinginannya. Padahal ia gak pernah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia sendiri kadang gak taat peraturan.

  • Suka bicara, namun tak mau mendengar.

Pandai berbicara, menginginkan semua orang mendengarkan apa yang dikatakannya. Ketika orang lain yang berkata ia nggak mau mendengar berlagak pilon atau ngomong gak nyambung.

  • Hati mudah resah, patah hati, putus asa (ciut hatinya).

Frustasi, menganggap dirinya orang yang paling menderita didunia. Merasa diri paling sial.

  • Mudah menyerah, nglokro, jalan berfikirnya pendek.

Usaha yang setengah-setengah. Kurang bersungguh-sungguh. Inginnya segala urusan beres dengan sendirinya.

  • Segala sesuatu diukur dengan hati, jika ia senang maka itu baik, jika tak senang maka itu buruk.

Ini sangat berbahaya. Karena timbangan antara baik dan buruk, benar dan salah, tidak semata-mata diukur dengan hati. Ya, kalau hatinya bersih ini dapat digunakan, kalau busuk? Sebenarnya ada timbangan lain yang harus digunakan yaitu syariah. Tanya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk suatu perkara yang kita ragu akan benar dan salahnya, halal dan haramnya dll.

  • Dan tentunya masih banyak lagi keburukan orang yang egois ......


Heri, 21-10-03

TULANG RUSUK KU

Hamba adalah salah seorang cucu Adam yang lahir diantara milyaran manusia. Hamba mencoba menelusuri jejak kakek moyang hamba itu. Mencari sesuatu yang hilang dari dalam diri.

Pengembaraan diri di padang kehidupan sudah lama hamba lalui sendiri. Sudah banyak yang telah hamba lakukan, tapi dimanakah pasangan diri hamba? Yang bisa memberi ketenangan dikala gundah. Memberikan pencerahan dikala suntuk. Memberikan nasihat dikala salah dan khilaf. Tempat berbagi dikala senang. Tempat mengadu dikala susah. Orang yang bisa menemani hamba dengan segala kekurangan hamba.

Dalam kesendirian hamba merenung. Hamba masih dapat melaui hari-hari dalam sendiri tapi sampai kapan? Apakah belum tiba waktunya untuk hamba mendapatkan pasangan? Sekedar tempat untuk bertukar pikiran. Tempat untuk menceritakan berbagai pengalaman dan kenangan dimasa silam.

Dimanakah ia? Apakah ia jauh dan hamba belum pernah mengenalnya. Ataukah ia dekat dan hamba sudah mengetahuinya.

Hamba semakin bingung dimana harus mencari. Diantara jutaan wanita itu hanya satu yang menyimpan tulang rusuk hamba. Siapakah ia yang menyimpan tulang rusuk hamba? Ya Allah dekatkanlah hamba kepadanya. Untuk menuju ketentuan-Mu mengikuti perjalanan kakek moyang hamba. Menyempurnakan kehidupan dan agama hamba. Di dunia hingga diakhirat nanti.

Dan hamba yakin, bila sudah saatnya semua juga akan terjadi. Yang hamba mohon adalah yang terbaik untuk hamba. Hamba tak ingin memaksakan seseorang untuk menjadi bagian diri hamba. Yang hamba inginkan adalah orang yang benar-benar merupakan bagian dari diri hamba.

Biarlah kini tulang rusuk hamba disimpan. Hingga nanti saatnya ia menampakkan diri. Akan hamba terima dengan senang hati.

Hai....... kau kah yang menyimpan tulang rusukku?

Heri, 28 April 2004

Minggu, 06 April 2008

Aku akan datang dan menciummu..


Dear Friends,

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku "dipaksa" membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengijinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu, yang penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.
Kini setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menginjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi, aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa, hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu.
Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya, saat itulah aku menyadari ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu.
Aku akan datang dan menciummu ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Dari “temanmu” untuk teman yang lain........

Selasa, 01 April 2008

Mendaftar ke Friendster

Sebelum melangkah lebih jauh soal Friendster, kita coba belajar cara mendaftar ke Friendster dulu yuk. Nah, pertama kamu kudu punya email. Kalo udah, kita bisa memulai sekarang.
  1. Kunjungi website Friendster dengan alamat : http://www.friendster.com
  2. Kamu akan melihat tampilan halaman utama Friendster seperti ini :
  3. Untuk mendaftar kamu bisa langsung klik tulisan Sign Up Now di bawah kotak Sign In seperti ditunjukkan gambar berikut :
  4. Berikutnya, kamu bisa mengisi kolom2 yang ada sesuai data kamu. Jangan lupa untuk mengisi kode Verify registration sesuai gambar yang muncul. Beri cawang juga pada kotak pilihan I am over 16 years old dan pilihan satunya lagi.
  5. Setelah selesai, langsung aja klik tombol Sign Up
  6. Selamat !! Anda sudah terdaftar, berikutnya akan muncul halaman ini :
  7. Jika kamu udah punya beberapa email teman yang udah bergabung dengan Friendster, maka silahkan masukkan email mereka di kotak-kotak yang ada. Kalo belum, langsung aja klik tulisan skip this step.
  8. Selanjutnya, kamu ditawari untuk memasang foto. Kalo belum punya, langsung aja klik tulisan skip this step, tapi kalo udah punya, klik tombol browse dan tunjukkan dimana letak file fotomu.
  9. Setelah selesai, maka sebuah email akan dikirimkan ke alamat emailmu. Disana ada link verifikasi yang harus kamu klik. Insya Allah akan dijelaskan nanti dipelajaran berikutnya. Sekarang langsung aja klik tombol GET STARTED dan selamat datang di halaman utamamu.

Sampai disini, kamu telah terdaftar di Friendster, tapi keanggotaanmu masih belum sempurn, kamu perlu melakukan verifikasi email, gimana caranya? Silahkan lihat pelajari.

sumber: gudanginfo.web.id

Minggu, 23 Maret 2008

Untuk saya renungkan......

Jika saya mengatakan bahwa hidup ini sulit?, bisa saya jawab ya hidup ini memang sulit. Tetapi saat saya bertanya seberapakah sulitnya, saya menjawab sangat sulit sekali hingga saya berpikiran untuk segera berakhir. Kadang saya menganggap hidup ini teramat mudah, hingga saya terkesan santai dalam menghadapinya dan jika saya ditanya kenapa kok santai, saya hanya menjawab hidup ini ndak usah ngoyo.

Ternyata kedua pertanyaan dan jawaban saya itu salah. Sebab.....


Ketika saya mengatakan hidup ini sulit, sesungguhnya Allah tidak membebani hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya. Dan hal terberat yang saya alamipun tentu sudah diperhitungkan oleh Allah untuk membuat kita jauh lebih baik, jika kita tepat menyikapinya. Namun kadang saya menganggap Allah tidak memperhatikan saya. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan hidup ini sangat sulit sekali, sesungguhnya hanyalah masalah hati yang kadang tidak bisa menerima kenyataan. Saat saya menerima cobaan kadang saya menyalahkan dan berburuk sangka kepada Allah. Kadang saya meminta dan tidak dikabulkan, mungkin saya lupa bahwa Allah hanya memberikan hal terbaik bagi hamba-Nya selama ia melakukan apa yang digariskan-Nya. Ke-egoisan saya yang membuat saya tidak bisa menerima yang diberikan Allah karena tidak sesuai dengan keinginan saya. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan hidup ini mudah dan santai, sesungguhnya kita harus bisa memanfaatkan hidup ini dengan baik. Sekali saya salah melangkah tentu akan menodai lembaran kisah sejarah yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu semau saya, semua ada aturannya. Baik dalam kehidupan dunia maupun akherat. Jika saya sudah tidak lagi mentaati peraturan, apalah gunanya saya bekerja dan hidup. Selama ini saya sering melanggar aturan yang ada dan saya bersikap santai, bahkan merasa tak bersalah sama sekali. Dan itu salah.

Ketika saya mengatakan ndak usah ngoyo, sesungguhnya Allah telah menggariskan bahwa manusia harus berusaha dengan keras untuk mencapai kemuliaan dunia dan akherat. Ngoyo bisa diartikan bekerja tanpa mengingat waktu dan kondisi fisik. Namun kadang saya menganggap bahwa bekerja keras sama dengan ngoyo dan hanya akan melelahkan serta membuat capek, hasilnya kadang tidak memuaskan hati hingga saya lupa mensyukurinya. Dan itu salah.

Mas Her, 11 Sept 03

Lebih indah mana

Lebih indah manakah?
Apakah hamparan padang pasir yang panas meranggas, yang diantara sesak pasir jarang sekali ditemukan air? Pohonpun layu sebelum tumbuh, dan mati sebelum membesar. Kecuali sedikit sekali tumbuhan di dekat oase yang kebetulan ada airnya.
Ataukah lautan luas yang menyimpan banyak sekali air? Bahkan ketika itu pula laut masih terus saja diisi oleh sungai-sungai yang tak hentinya mengalir.
Ternyata keduanya menampakkan kerakusan. Padang pasir tak pernah menghantarkan udara sejuk sama sekali. Bahkan ketika malam datangpun keadaan tetap sama. Laut juga tak pernah menampakkan untuk memberi air kepada daratan kecuali air bah yang menghancurkan.
Hampir tak ada kesan indah. Kecuali perpaduan antara keduanya. Ketika kuperhatikan pantai dengan nyiurnya yang melambai seakan menawarkan kesejukkan yang tak terperi. Memang disana ada keindahan.
Memang pertemuan antara laut dan pasir akan menampilkan kesejukkan yang sangat. Panasnya mentari tak lagi terasa seperti di padang pasir. Kesejukkan yang dirindukan banyak orang. Akankan keduanya terus menyatu untuk menghilangkan jenuhnya pikiran dari panasnya dunia dan harapan yang tak kunjung pupus?
Keindahan dunia adalah hiasan mata, tapi akankah itu melenakan?
Padahal banyak sekali yang telah terlena?
Dan kau?
Heri, 21 Okt 04

Selasa, 19 Februari 2008

Cinta

Cinta adalah suatu rasa yang kadang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Atau bahkan dengan simbol apapun juga. Ia bersemayam di dalam hati. Manusia bisa berbuat baik karenanya, atau bahkan bertingkah aneh karena pengaruh cinta. Ini memang unik dan tak bisa dipungkiri. Hampir semua orang di dunia ini dapat dipastikan mengenal kata yang paling populer yaitu kata “cinta”, sebab semua orang membicarakannya, remaja, orang tua bahkan anak-anak pun telah pandai menyanyikannya, lagu cinta begitu lekat dalam diri mereka.
Begitu populernya kata cinta ini, lihatlah hampir semua media massa turut mengekspose, koran, majalah, radio terutama TV yang menayangkan film-film cerita mulai dari telenovela, sinetron, layar emas, layar perak, mega India yang memakai menu utamanya cinta. Begitu juga puisi, syair, cerpen, novel, buku-buku cerita dari komik hingga berjuta roman selalu ditaburi dengan kata-kata cinta.
Sulit memang kita melepaskan diri dari istilah cinta ini sudah begitu lekat dihati kita, sudah merasuk ke tulang sum-sum dan mengalir dalam urat nadi. Namun pernahkah kita merenungi apa itu sebenarnya cinta, konkritkah ia atau abstrakkah ia ?
Cinta. Acapkali ketika kata ini disebut, jiwa manusia pun bergetar, terbuai oleh perasaan indah nan mulia. Seakan tersiram oleh keindahan cinta yang berbaur dengan keharuman minyak mewangi. Orang yang dimabuk cinta seakan tak puas bila tak bermandikan air hujan nan bersih-suci, disiram oleh tangan kasih sayang, dan ia pun seakan terbang nun jauh di atas sana.
Orang Yunani kuno mengkhayalkan Dewi bernama “Amour” itulah menurut mereka dewi cinta, dialah yang menaruh rasa cinta dihati manusia dengan lambang hati berwarna merah muda, kepercayaan seperti ini hanya sekedar dugaan tanpa alasan. Cinta sebenarnya telah ada dalam setiap diri kita sejak kita lahir, artinya itu adalah pembawaan manusia. Dialah Allah Yang Maha Mulia memberikan perasaan cinta kepada kita, Allah tidak pernah membuat Dewi bernama Amour ataupun Dewa-Dewi yang lainnya, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.
Cinta, adalah persoalan hakiki manusia. Dengan cinta, manusia bisa takwa, romantis, dan bisa pula brutal. Karena itulah, cinta perlu ditata, agar berjalan di jalur Ilahi, yang membuahkan kedamaian di dunia juga di akhirat.
Lalu bagaimana untuk mengelolanya agar membawa kedamaian? lslam punya resepnya. Cinta pada Allah, pada Rasulullah saw, dan Jihad fi sabilillah adalah cinta yang menduduki peringkat utama. Bila cinta seperti ini diterapkan dalam kehidupan keseharian, maka akan membawa manusia pada Islam yang lebih total. Ia akan memetik hakikat cinta yang sebenarnya. Ia hanya takut pada Sang Pencipta, Allah SWT. Pangkat, jabatan ataupun wanita takkan mempu mengusiknya, juga keluarga dan handai taulan.
Berangkat dari perasaan lembut yang ditanamkan oleh Allah dalam hati dan jiwa seseorang, maka akan terbentuk perasaan kasih sayang dan cinta dari seorang mukmin terhadap sesama mukmin; seorang anak terhadap kedua orang tuanya; orang tua terhadap anak-anaknya; seorang suami terhadap istrinya; seorang istri terhadap suaminya, cinta seseorang terhadap familinya, kerabatnya, dan teman-temannya. Ia juga berbuah cinta seorang teman terhadap sahabatnya; atau cinta seorang penduduk pada tanah airnya.
Pesan saya, jangan sampai cinta membuat kita semakin jauh dari Allah. Carilah cinta yang bisa membuat kita lebih dekat lagi kepada Allah.